Bedaya Manten & Lawung Ageng The Two Sacred Dance Compositions for the Royal Wedding of Kraton Yogyakarta

English | Indonesia

At the wedding reception of GKR Hayu & KPH Notonegoro in Bangsal Kepatihan, the invitees were mesmerized by the dance performances. The dances were the Bedaya Manten and Lawung Ageng.

 To Dance, to Unite with God

In Javanese terminology, ‘to dance’ is called Matoyo. Matoyo originated from the word toyo, which means ‘deity’ or ‘God’. Therefore, dancing connotes the idea of being in union with God. “Dancing is similar to praying. It’s not about moving the body randomly; actually the body is moved by the soul, which is in union with the Creator of Souls,” stated Nyi KRT Pujaningsih, the dance instructor of the Kraton of Yogyakarta, when interviewed in the dance rehearsal in Joglo Ndalem Yudhanegaran. “When dancing, it’s not only the body that moves, but also the soul. So, it has to be done sincerely. The combination of wirogo (the dance moves), wiromo (the musical accompaniment), and wiroso (the internalization of sense) has to be harmonious. Thus, the dance itself is a sacred ritual, not because of the offering or other things involved, but because of the motion itself,” she continued.

The unique characteristic of the Wedding Reception event was the presentation of the breathtakingly beautiful dance performance. There were two dances presented, the Beksan Bedaya Manten and the Beksan Bedaya Lawung Ageng. The dancers selected to perform in GKR Hayu and KPH Notonegoro’s wedding were obviously the senior ones, all of who were the dancers of the Kraton who had for so long been practicing in the Palace. The preparation itself had been started since September.

 Bedaya Manten & Lawung Ageng

Bedaya means ‘the dancing widodari’; the term widodari has the meaning ‘a graceful mythical female figure living in heaven’. There are several kinds of Bedaya, one of them is Bedaya Manten. Bedaya Manten was composed by Sultan Hamengku Buwono IX, around 1942. The dance symbolizes one’s journey to find his/her soul-mate. “Bedaya Manten is performed by six female dancers. Two of them are the representation of the newlyweds and the other four are the companions,” uttered Drs. GBPH Yudhaningrat when interviewed at his house.

The Bedaya Manten was designed as a dance performance for wedding events; therefore the dance moves performed are also distinctive. There is one part of the dance-plot showing the Panggih ritual, a ceremony where the bride and the groom meet with each other for the first time after being officially married. The Bedaya Manten is also flexible, meaning that if the bride is the Princess of the Kraton, thus there will be a change of position for the dancer that acts as the groom. Originally, the position of the groom actor is on the right, but in this occasion she moves to the left.

Meanwhile, Beksan Lawung Ageng was composed by Sultan Hamengku Buwono I, hence it is also called Beksan Trunojoyo. The historical background of the dance, according to GBPH Yudaningrat, was fact that the people of Yogyakarta were originally soldiers. Sultan Hamengku Buwono I wanted a synergy between art and struggle, meaning that the soldiers were not only fluent in fighting in wars but also in dancing.

The dance is performed by 16 male dancers and they will show war-like acts and skill-fighting acts. The weapon equipped for the acts is lawung, a three-meter long stick with blunt ends, which were used by crossing and shoving it.

Other than being the symbol of struggle, the dance is also a symbol of marital life. There are two parts in the dance: the lawung jajar part, which seems emotional, and the lawung lurah part, which is calmer. “It’s like the marital life which begins emotionally, but will be steadier in the long run,” said Nyi KRT Pujaningsih.

The two dances were performed in the Wedding Reception in Bangsal Kepatihan for about three hours and accompanied by the gamelan performance, which was combined with orchestral music. The blending between traditional and modern music enhanced the beauty of the dance performances. The dance performances were the proofs that the Kraton of Yogyakarta has always been trying to show the presentation of art and culture which are full of meanings and good lessons in its great celebration.

Bedaya Manten & Lawung Ageng: Dua Tarian Sakral untuk Pernikahan Kraton Yogyakarta

Saat Resepsi pernikahan GKR Hayu & KPH Notonegoro di Bangsal Kepatihan, para tamu dibuat takjub dengan penampilan tari-tariannya. Tarian tersebut adalah Bedaya Manten & Lawung Ageng

 Menari, Menyatu dengan Tuhan

Dalam istilah Jawa, menari disebut Matoyo. Matoyo berasal dari kata Toyo yang artinya dewa atau Tuhan. Jadi, menari mempunyai makna menyatu dengan Tuhan. “Menari diibaratkan seperti berdoa. Tidak hanya asal menggerakkan tubuh, yang menggerakkan ini sebenarnya adalah jiwa yang sudah menyatu dengan Sang Pemilik Jiwa.” tutur Nyi KRT Pujaningsih, pelatih tari Kraton Yogyakarta saat ditemui disela-sela gladi bersih tarian di Joglo Ndalem Yudhanegaran. “Saat menari, tidak hanya raga yang bergerak, tapi juga jiwa. Jadi menari harus ikhlas. Kombinasi wirogo, wiromo, wiroso yang harus selaras. Jadi menari ini proses ritual sakral yang bukan karena sesaji atau apa, tapi karena gerakkannya itu sendiri,” lanjutnya lagi.

Ciri khas pada acara Resepsi Kraton Yogya adalah disuguhkannya pertunjukan tarian yang indah. Ada dua tarian yang disuguhkan, yaitu Bedaya Manten dan Beksan Lawung Ageng. Para penari yang dipilih tampil pada acara pernikahan GKR Hayu dan KPH Notonegoro tentu saja merupakan para penari senior, semuanya adalah penari Kraton yang sudah sejak lama melakukan latihan di Kraton Yogyakarta. Persiapan latihan pun sudah dimulai sejak bulan September.

 Bedaya Manten & Lawung Ageng

Bedaya mempunyai arti “bidadari yang sedang menari”. Ada beberapa jenis bedaya, salah satunya adalah Bedaya Manten. Bedaya Manten diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono IX, sekitar tahun 1942. Tarian ini menyimbolkan perjalanan seseorang dalam menemukan jodohnya. “Bedaya Manten ditarikan oleh enam orang perempuan. Yang dua merupakan penggambaran pengantin dan empat orang lainnya adalah pengiring,” ujar Drs GBPH Yudhaningrat saat ditemui di rumahnya.

Bedaya Manten yang diciptakan memang untuk tarian dalam pernikahan, maka gerakan yang ditarikan pun berbeda. Ada satu bagian tarian yang memperlihatkan proses Panggih. Bedaya Manten ini juga fleksibel. Dalam artian, jika pengantin adalah putri Kraton, maka ada perpindahan posisi dari yang berperan sebagai pengantin pria. Awalnya posisi pemeran pengantin pria berada di sebelah kanan, namun akhirnya pindah di sebelah kiri.

Beksan Lawung Ageng diciptakan oleh Hamengku Buwono I, oleh karena itu Lawung Ageng juga disebut Beksan Trunojoyo. Latar belakang diciptakannya tarian ini menurut GBPH Yudaningrat adalah dulunya masyarakat Yogyakarta ini merupakan prajurit. Hamengku Buwono I berkeinginan agar ada sinergi antara seni dengan perjuangan, dimana prajurit tidak hanya fasih berperang tetapi juga dalam hal menari.

Tarian ini ditarikan oleh 16 orang penari pria dan akan menampilkan gerakan latihan perang-perangan atau adu ketangkasan.  Alat ketangkasan yang dipergunakan adalah lawung, yaitu tongkat panjang berukuran tiga meter, berujung tumpul, dan digerakkan dengan cara menyilang dan menyodok.

Selain sebagai simbol perjuangan, tarian ini juga sebagai simbol kehidupan pengantin. Jika diperhatikan, ada dua bagian dalam menari, yaitu lawung jajar yang terlihat emosional dan lawung lurah yang terlihat lebih kalem. “Itu seperti kehidupan pengantin yang awalnya emosional namun lama kelamaan akan stabil,” ucap Nyi KRT Pujaningsih.

Kedua tarian ditampilkan dalam acara Resepsi di Bangsal Kepatihan selama kurang lebih tiga jam dan diiringi dengan gamelan yang dikombinasikan dengan musik orkestra. Paduan antara musik tradisional dan musik modern tentu saja menambah keindahan penampilan kedua tarian ini. Penampilan tarian ini menjadi sebuah bukti bahwa Kraton Yogyakarta selalu berusaha menunjukkan sajian seni dan budaya yang sarat makna dan ajaran baik dalam hajatan besarnya.

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.