EVENTS

 

Kirab

English | Indonesia

r-Pagelaran-Kraton-Yogyakarta

Saat Kirab, rombongan Kereta Sultan HB X akan berangkat dari Pagelaran Kraton menuju Gedung Kepatihan.

Becoming One with the People

One of the most interesting traditions in the Royal Wedding for common people is the Kirab, which means ‘the Procession’. This wedding procession takes the bride and the groom along with their parents to the place where the reception is going to be held. The Kirab consists of horse carriages escorted by marching royal troops. It originally takes the route encircling the Royal Palace. But for the wedding of G.K.R. Hayu and K.P.H. Notonegoro, it will start from the Royal Palace heading straight to the Kepatihan Building.

There will be as many as 12 horse carriages in the procession. Aside from introducing the royal couple to the public, this event is also intended to reflect the close relationship between the Kraton and the people. It is a symbolization of manunggaling kawula gusti, a Javanese principle that signifies the unity of the king and the people. When leaders are in union with their people, there will be prosperity and peace.

In the convoy, the royal couple will ride in a carriage called Kanjeng Kyai Jongwiyat. The Sultan and the Queen will be carried in Kanjeng Kyai Wimono Putro.

The procession of horse carriages will be divided into two. The first group comprises the carriages that take the royal couple, the parents of the groom, the royal escorts, and the dancers, and is followed by royal troops. As the first group arrives in Kepatihan Building, the second group, which carries the Sultan and the Queen along with their officials, will depart from the Royal Palace.

There will be five carriages in the first group that will be led by the one that brings the royal couple. These carriages are Kanjeng Kyai Jongwiyat for the bride and the groom, Kanjeng Kyai Notopuro for the utusan dalem (the Sultan’s envoy), Kanjeng Kyai Rejopawoko for the patah manten (little girls whose task is to fan the royal couple on the bridal dais), and Kanjeng Kyai Rotobiru and Kanjeng Kyai Permili for the performers of the Bedhaya sacred dance.

The group of the royal couple will also be accompanied by the Lawung Ageng dancers up front riding on 12 horses and the Bregodo Prawirotomo and Bregodo Patangpuluh royal troops that total to 120 soldiers (one bregodo, or unit, consists of 60 soldiers).

The second group will set off once this first part of the procession is over. It consists of seven carriages that will transport the Yogyakarta royal family and the family of Paku Alam IX (the Duke of Pakualaman domain located within Yogyakarta territory; in modern time holds the position of vice governor of the special region).
r-Wirobrojo

Bregodo Wirobrojo adalah sebutan untuk salah satu prajurit yang ada di Kraton Yogyakarta. Bregodo Wirobrojo juga akan turut serta dalam prosesi Kirab saat pernikahan GKR Hayu esok dan bertugas mengiringi rombongan Kereta Sultan.

Sri Sultan Hamengku Buwono X and the Queen will ride in Kanjeng Kyai Wimono Putro on this occasion. This carriage will be drawn by eight horses. Three carriages called Kus Abut, Kus Cemeng, and Kus Ijem will carry the princesses following behind the Sultan’s. There will also be royal troops accompanying this group. As many as 240 soldiers in total will be in place, consisting of four bregodos i.e. Wirobrojo, Mantrijero, Ketanggung and Daeng. In the last row, the family and relatives of Paku Alam IX will ride in three Kraton carriages.

Kirab
Menyatu dengan Rakyat

Salah satu tradisi yang akan paling menarik animo masyarakat saat adanya pernikahan Kraton adalah Kirab. Kirab Pengantin adalah prosesi yang dilakukan untuk mengantar mempelai dan kedua orang tua mempelai sampai ke pelaminan. Kirab dilakukan dengan iring-iringan kereta kuda yang disertai dengan arak-arakan prajurit. Sejatinya, Kirab dilakukan dengan rute memutari Kraton. Namun, untuk pernikahan GKR Hayu & KPH Notonegoro esok, Kirab hanya akan dilakukan dengan rute dari Kraton menuju Gedung Kepatihan.

Iring-iringan kereta kuda yang digunakan untuk Kirab akan berjumlah 12 kereta. Arak-arakan ini selain untuk memperkenalkan kedua mempelai kepada masyarakat juga sebagai simbol dekatnya hubungan Kraton dengan rakyat. Arak-arakan ini merupakan simbolisasi manunggal ing kawula gusti, yang artinya menciptakan kesejahteraan bagi umat manusia. Dimana ketika pimpinan bersatu dengan rakyat, pasti akan ada kemakmuran dan ketenteraman.

Saat iring-iringan kereta kuda ini, kedua mempelai akan menggunakan Kereta Kanjeng Kyai Jongwiyat. Sementara itu, Sri Sultan beserta Permaisuri akan menggunakan Kereta Kanjeng Kyai Wimono Putro.

Keberangkatan iring-iringan kereta kuda ini dibagi menjadi dua. Rombongan kereta kuda pertama adalah kereta mempelai, orang tua mempelai pria, para pengiring, penari, serta prajurit Kraton. Sesampainya rombongan pertama di Kepatihan, barulah rombongan kereta kedua yakni Sultan dan Permaisuri beserta perangkatnya berangkat menuju Kepatihan.

Rombongan pertama terdiri dari lima kereta yang akan dinaiki oleh rombongan mempelai di barisan paling depan. Kereta-kereta tersebut terdiri dari Kereta Kanjeng Kyai Jongwiyat untuk kedua mempelai, Kereta Kanjeng Kyai Notopuro untuk para Utusan Ndalem, Kereta Kanjeng Kyai Rejopawoko untuk Patah Manten, Kereta Kanjeng Kyai Rotobiru serta Kereta Kanjeng Kyai Permili untuk para penari Bedhaya.

Rombongan mempelai juga akan diiringi oleh para penari Lawung Ageng yang mengendarai 12 kuda di bagian depan serta pasukan Bregodo Prawirotomo dan Bregodo Patangpuluh (prajurit keraton) yang totalnya mencapai 120 orang (satu Bregodo terdiri dari 60 orang prajurit).

Setelah rombongan pertama sampai, rombongan kedua baru akan berangkat. Rombongan kedua ini terdiri dari tujuh kereta yang akan membawa rombongan keluarga Kraton Yogyakarta dan rombongan kerabat Pakualaman IX.

Untuk rombongan keluarga Kraton, kereta-kereta tersebut adalah Kereta Kanjeng Kyai Wimono Putro yang akan dinaiki oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta Permaisuri. Kereta ini akan ditarik oleh delapan kuda. Berikutnya, Kereta Kus Abut, Kus Cemeng dan Kus Ijem akan mengikuti di belakang kereta Raja untuk para putri Keraton. Rombongan Raja juga akan diiringi oleh prajurit Bregodo Keraton. Totalnya sekitar 240 prajurit, terdiri dari empat Bregodo yakni Bregodo Wirobrojo, Mantrijero, Ketanggung dan Daeng. Lantas pada deretan terakhir, rombongan kerabat Pakualaman IX akan mengikuti dengan menaiki tiga kereta kuda milik Kraton.

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.