EVENTS

 

Majang Pasareyan, Tarub, & Bleketepe

English | Indonesia

Reg Danapranata

Regol Danapratapa merupakan salah satu tempat yang dipasangi tarub. Pemasangan tarub dilakukan setelah prosesi siraman.

Decorating Every Corner of the Palace En Masse

The Kraton wedding is always flagged with a Tarub installed at various spots around the Palace. It is a sign showing that the Kraton of Yogyakarta is holding a royal wedding. Besides, Tarub is also used to keep off perils. It is usually installed at the entrance portals of the Palace and at Bangsal Kepatihan.

A Tarub consists of banana stem, tuwuhan (paddy, coconut and other crops) and janur (young coconut leaves). The tuwuhan will be attached to several entrance spots, such as Pagelaran, Pacikeran, Tarub Agung, Regol Brajanala, Bangsal Ponconiti, Regol Keben, Doorlop Srimenganti, Bangsal Trajumas, Regol Danapertapa, Doorlop Bangsal Kencana, Kuncung Tratag Bangsal Kencana, and Regol Gepura.

Another set of decoration is Bleketepe (plaited coconut leaves). It will be attached to the Kuncung Tratag Bangsal Kencana Wetan (the front roof of the East Bangsal Kencana).

“Various parts of coconut tree are significantly used in this occasion. This is because a coconut tree is considered beneficial, either for its leaves, fruit, or trunk. Also, coconut tree lives long. All of those aspects are meaningful, while being also used as symbols and prayers,” said KRT Pujaningrat, an Abdi Dalem in the Kraton of Yogyakarta.

It is easily noticeable that the Palace will be full of decorations made of coconut leaves whenever it holds a royal wedding ceremony. The young coconut leaves are seen as beautiful as ray of lights, which makes it a must-have decoration during the important celebration days.

The making of the plaited coconut leaves, for the Bleketepe decoration, also turns out to be a special occasion as it involves hundreds of people, from students to mothers. This involvement reflects the high enthusiasm shown by the society in giving supports to events held by the Kraton.

In the meantime, while people are busy decorating with Tarub and Bleketepe, another thing is going on in the bride’s room. The activity of decorating the bride’s room, or in Javanese Majang Pasareyan, is carried out. The ones to decorate the bride’s room is the Queen, accompanied by her married daughters. During the Majang Pasareyan process, the bride’s room will be decorated with various fabrics, flowers, and other ornaments. The fabrics used have their own meanings, among others is to symbolize prayers for good luck, safety, and to keep off perils.

Bersama-sama Menghias Setiap Sudut Kraton

Prosesi pernikahan Kraton selalu ditandai dengan dipasangnya Tarub di berbagai sudut di sekitar Kraton. Prosesi pasang Tarub merupakan tanda jika Kraton Yogyakarta mempunyai hajatan mantu. Selain itu, Tarub digunakan pula untuk sarana tolak bala. Tarub biasanya dipasang di gapura-gapura Kraton dan Bangsal Kepatihan.

Tarub terdiri dari pisang, tuwuhan (padi, kelapa dan palawija) serta janur. Tuwuhan tersebut akan dipasang di berbagai gapura, yakni: di Pagelaran, Pacikeran, Tarub Agung, Regol Brajanala, Bangsal Ponconiti, Regol Keben, Doorlop Srimenganti, Bangsal Trajumas, Regol Danapertapa, Doorlop Bangsal Kencana, Kuncung Tratag Bangsal Kencana, dan Regol Gepura.

Sementara Bleketepe adalah daun kelapa yang dianyam. Bleketepe akan dipasang di Kuncung Tratag Bangsal Kencana Wetan.

“Bagian-bagian pohon kelapa banyak digunakan dalam prosesi ini. Alasannya adalah karena kelapa dianggep salah satu buah yang berguna, berguna untuk apa saja, baik daunnya, buahnya, maupun batangnya. Dan pohon kelapa itu umurnya panjang. Semua ini diambil makna dan juga sebagai simbol sekaligus doa.” tutur KRT Pujaningrat, salah satu Abdi Dalem Kraton Yogyakarta.

Maka bisa dilihat, ketika terdapat hajat pernikahan, Kraton akan penuh dengan hiasan janur kelapa. Janur dianggap sebagai daun yang indah seperti layaknya cahaya sehingga harus ada di sekitar kita saat merayakan hari-hari yang penting.

Proses pembuatan ratusan anyaman kelapa ini pun menjadi momen istimewa karena semua orang, baik mahasiswa sampai ibu-ibu semuanya bergotong royong untuk membuat hiasan Tarub dan Bleketepe ini. Dari sini dapat dilihat betapa besar antusiasme masyarakat dalam mendukung hajatan Kraton.

Sementara itu, jika di luar sedang sibuk memasang Tarub dan Bleketepe, lain halnya di kamar pengantin. Pada waktu yang sama, ada prosesi Majang Pasareyan atau menghias kamar pengantin. Untuk kamar calon mempelai perempuan, yang menghias adalah Permaisuri bersama putri Sultan yang sudah menikah. Ketika prosesi Majang Pasareyan ini, kamar akan dihias dengan berbagai macam kain, bunga, dan juga pernak-pernik. Kain-kain ini memiliki makna tersendiri, di antaranya adalah untuk doa pengharapan, keselamatan, dan juga tolak bala.

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.