Midodareni

English | Indonesia

r kraton wedding midodareni7

The Midodareni ritual, literally means to wait for the widodari, which was started on Monday (10/21) at 08.00 pm was a part of Tantingan ritual series, a ceremony in which the bride’s resolution towards the marriage is inquired. This event was held in Sekar Kedhaton particularly for GKR Hayu as the bride. KPH Notonegoro as the groom performed the same ritual separately in Bangsal Kasatriyan.
The term midodareni is derived from the stem widodari, which means a graceful mythical female figure living in heaven. The Midodareni was adapted from a story of Dewi Nawangwulan, a heaven deity, descending from heaven to meet her daughter the night before her wedding day. The expectation was that the bride would be as beautiful as the widodari. The Midodareni is meant to be self-purification and mental preparation for the wedding.
The Midodareni ritual was started at 08.10pm and attended by Sri Sultan Hamengku Buwono X along with the Queen. Besides, the ritual was also attended by GKR Hayu’s sisters, GKR Pembayun, GKR Condro Kirono, GKR Maduretno, and also GKR Bendara. The Female Abdi Dalems of Sipat Bupati, the Wayah Dalems and the wives of the Abdi dalems of Pangeran Sentana/Bupati Nayaka Penghageng II also attended the ritual.
In the Midodareni ritual, the Sultan visited the bride and the groom as well as observed the location and the preparation for the event in the next day. In Bangsal Sekar Kedhaton, Sri Sultan Hamengku Buwono X along with GKR Hemas were picked up by GBPH Prabukusumo to meet the groom’s family in Bangsal Kasatriyan. Arriving at Bangsal Kasatriyan, the Sultan and the Queen were welcomed by GBPH Hadiwinoto and with gendhing Prabu Mataram as a form of respect. Sultan Hamengku Buwono X along with the entourage proceeded to Bangsal Sri Katon through Gadri Kasatriyan to observe the wedding room. After the wedding room observation, Sultan Hamengku Buwono X sat down with the relatives and the in-laws in Bangsal Sri Katon. KPH Notonegoro then took a blue-colored rose entrusted to Sultan Hamengku Buwono X to be bestowed to GKR Hayu. The Sultan received the blue-colored rose enthusiastically, although that was not part of the Kraton custom.
Not long after, Sultan Hamengku Buwono X was ready to leave Kasatriyan bringing the rose given by KPH Notonegoro for Sekar Kedhaton with the accompaniment of gendhing Sri Kondur.
Meanwhile, in Bangsal Sekar Kedhaton, GKR Hayu, accompanied by BRAy Suryadiningratan and BRAy Suryametaram, was waiting for the arrival of the Sultan and the Queen. Having arrived, the first thing the Sultan did was to bestow the entrusted flowers from KPH Notonegoro to GKR Hayu. Surprised, GKR Hayu accepted the entrusted flowers enthusiastically. Afterwards, the Sultan, accompanied by GKR Bendara, observed the preparation conducted by his daughter.
During the Midodareni ceremony, the bride was accompanied by her family and several Abdi Dalems. Having finished observing the preparation, the Sultan and the Queen, along with their daughters and son-in-laws except GKR Pembayun, went back to Kraton Kilen. GKR Pembayun kept staying in Sekar Kedhaten to accompany GKR Hayu spending Midodareni eve. In the meantime, the guests were invited to have their dinner.
The bride conducted her obligation to not sleep until the midnight, as the perpetuation of the long Midodareni tradition in the Kraton. In this ritual, Cengkorongan, or the light make-up in the forehead, was applied to the bride. The light make-up would be continued the next day before the Panggih ritual, a ceremony where the bride and the groom meet with each other for the first time after being officially married.
Meanwhile, Mujahadah prayers for the groom were expressed in Panepen Mosque. When the Tantingan ritual finished, the sound of tahlil, i.e. repeated recitation of the confession of faith in Islam, was heard, indicating Mujahadahan in Panepen Mosque. “This ceremony consists of prayers or Mujahadah expressed to God in order to have the  wedding solemnization tomorrow and all the following event run well. [It] started with tahlil and ended with Mujahadah prayers,” said KRT Drs H Ahmad Kamaludiningrat as Penghageng II Kawedanan Pengulon. The ritual was led by Raden Riyo Haji Abdul Ridwan and followed by the twelve Abdi Dalem Kajis and attended by two representatives from the government office religious affairs (KUA). “Mujahadah is a ceremony that had been started by Sri Sultan Hamengku Buwono I and still preserved to the present time,” Ahmad added.


r kraton wedding midodareni7

Upacara midodareni, Senin (21/10) masih menjadi satu rangkaian acara dengan upacara tantingan yang dimulai pukul 20.00. Acara ini berlangsung di Sekar Kedhaton, khusus untuk calon mempelai wanita yaitu GKR Hayu. KPH Notonegoro, selaku calon mempelai pria melaksanakan upacara ini secara terpisah di Bangsal Kasatriyan.

Istilah midodareni berasal dari kata widodari yang berarti bidadari. Upacara midodareni diambil dari cerita turunnya Dewi Nawangwulan untuk menemui anaknya pada saat upacara midodareni. Diharapkan calon mempelai wanita menjadi cantik seperti bidadari. Makna midodareni sendiri adalah untuk menyucikan diri dan menyiapkan mental untuk acara pernikahan.

Upacara midodareni dimulai pukul 20.10 dan dihadiri oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta Permaisuri. Selain itu turut hadir saudari-saudari dari GKR Hayu yaitu GKR Pembayun, GKR Condro Kirono, dan juga GKR Bendara. Para Abdi Dalem Putri Sipat Bupati, para Istri Abdi Dalem Pangeran Sentana/Bupati Nayaka Penghageng II, dan para Wayah Dalem juga turut hadir dalam acara ini.

Dalam upacara midodareni ini, Sultan mengunjungi kedua mempelai sekaligus meninjau lokasi dan kesiapan untuk acara keesokan harinya. Dari Bangsal Sekar Kedhaton, Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta GKR Hemas dijemput oleh GBPH Prabukusumo untuk menemui keluarga calon mempelai pria di Bangsal Kasatriyan. Tibanya Sultan beserta Permaisuri di Bangsal Kasatriyan disambut oleh GBPH Hadiwinoto dan diiringi gendhing (permainan gamelan) Prabu Mataram sebagai penghormatan. Sultan Hamengku Buwono X beserta rombongan kemudian masuk menuju Sri Katon melalui Gadri Kasatriyan untuk meninjau kamar pengantin. Setelah selesai meninjau kamar pengantin, Sultan Hamengku Buwono X duduk di bangsal Sri Katon bersama kerabat dan besan. KPH Notonegoro lalu mengambil setangkai bunga mawar warna biru yang dititipkan kepada Sultan Hamengku Buwono X untuk diberikan kepada GKR Hayu. Sultan menerima bunga mawar biru tersebut dengan antusias meskipun hal semacam ini sebenarnya bukan salah satu bagian dari tradisi Kraton.

Tak lama kemudian, Sultan Hamengku Buwono X beranjak meninggalkan Kasatriyan sambil membawa bunga mawar dari KPH Notonegoro menuju Sekar Kedhaton dengan diiringi gendhing Sri Kondur.

Sementara itu, di Bangsal Sekar Kedhaton, GKR Hayu didampingi oleh BRAy Suryadiningrat serta BRAy Suryametaram, menunggu kedatangan dari Sri Sultan dan Permaisuri. Begitu Sultan datang, hal pertama yang dilakukan Sultan adalah menyerahkan bunga titipan KPH Notonegoro. GKR Hayu terlihat kaget dengan titipan yang dibawa oleh Sultan, ia lalu menerima bunga tersebut dengan antusias. Setelah itu, Sultan didampingi GKR Bendara menengok persiapan calon mempelai wanita yang merupakan putri dari Sultan sendiri.

Selama upacara midodareni berlangsung, calon mempelai wanita ditemani keluarga dan beberapa Abdi Dalem. Setelah menengok persiapan, Sultan dan permaisuri bersama Putra-Putri Dalem, kecuali GKR Pembayun, kembali ke Kraton Kilen. GKR Pembayun tetap berada di Sekar Kedhaton untuk menemani GKR Hayu menjalani malam Midodareni. Sementara itu, tamu yang datang lalu dipersilahkan untuk makan malam.

Calon mempelai wanita tetap melaksanakan kewajiban untuk tidak tidur sampai lewat tengah malam sesuai tradisi yang sudah turun-temurun dilaksanakan. Dalam upacara ini, calon mempelai wanita nampak mengenakan cengkorongan atau kerangka riasan tipis pada keningnya. Kerangka riasan tersebut akan dilanjutkan keesokan harinya menjelang upacara Panggih.

Sementara itu, di Masjid Panepen berlangsung doa-doa Mujahadah bagi kedua calon mempelai. Setelah upacara Tantingan selesai, terdengar suara tahlil yang saling bersautan yang menandakan sedang diadakannya Mujahadah di Masjid Panepen. “Upacara ini berisi doa-doa atau muhajadah yang dipanjatkan agar acara akad nikah esok pagi dan seterusnya berjalan lancar. Diawali dengan tahlil-tahlil dan diakhiri dengan mujahadah,” ungkap KRT Drs H Ahmad Kamaludiningrat selaku Penghageng II Kawedanan Pengulon. Acara dipimpin oleh Raden Riyo Haji Abdul Ridwan dan diikuti kedua belas anggota Abdi Dalem Kaji serta dihadiri diantaranya dua orang perwakilan dari KUA. “Mujahadah merupakan upacara yang telah dimulai dari Sri Sultan Hamengku Buwono I dan masih dilestarikan sampai saat ini,” jelas Ahmad lagi.

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.