EVENTS

 

Midodareni

English | Indonesia

r-Srikaton

Srikaton merupakan tempat Sultan menemui calon mempelai pria dengan keluarganya pada saat Midodareni.

Waiting for the Return of the Widodari

After the Tantingan, the wedding will be continued with Midodareni. Midodareni is derived from the stem widodari, a mythical graceful and fragrant female figure from heaven. Midodareni is the last night for the bride and the groom being an unmarried couple. In this ritual, the royal couple will be accompanied by friends and relatives.

The Midodareni will be held in Bangsal Kasatriyan for the groom, and in Sekar Kedhaton for the bride. The eve of Midodareni will be used by the Sultan to go to see the couple and visit the venue, checking if everything is ready for the next day’s events.

The Sultan and the Queen, as well as their relatives, will meet with the groom and his family in Bangsal Kasatriyan. The parents of both the bride and the groom will have a conversation to get to know each other better. Thereafter, the Sultan will look into the wedding room in Bangsal Kasatriyan to see whether everything is all set.

The Sultan, the Queen, and their entourage will then make a visit to the bride in Sekar Kedhaton.

The bride, along with relatives and some female Abdi Dalem (royal servants), will be in Bangsal Sekar Kedhaton. As in Bangsal Kasatriyan, here too the Sultan will ensure the bride and the ubarampe (ritual accessories) for the wedding are well prepared. Like parents in general, the Sultan wants his daughter’s wedding ceremony to be perfect, and for that he will make time to observe in person how the preparation is going.

On the eve of Midodareni, the bride is not allowed to sleep before 12 a.m. to wait for the coming of the widodari. The myth has it that the widodari will bestow beauty to her. Practically speaking, however, Midodareni is meant to be a mental preparation for the wedding.

The ceremony is originated from the legend of Jaka Tarub and Dewi Nawangwulan. Dewi Nawangwulan is a heaven deity who has a child with Jaka Tarub, a human. Going back to her world, she promises to return to Earth on the wedding of her daughter. Midodareni is inspired by the story of the deity’s descending to the human world to meet her marrying daughter.

Midodareni
Menanti Datangnya Bidadari

Setelah Tantingan, acara dilanjutkan dengan Midodareni. Midodareni berasal dari kata dasar widodari yang berarti bidadari yaitu putri dari surga yang sangat cantik dan sangat harum baunya. Midodareni adalah malam terakhir masa lajang bagi kedua calon mempelai. Di sini, kedua calon mempelai akan ditemani oleh teman-teman dan kerabatnya.

Midodareni akan dilakukan di Bangsal Kasatriyan untuk calon mempelai pria, dan di Sekar Kedhaton untuk calon mempelai wanita. Malam Midodareni ini akan digunakan Sultan untuk mengunjungi kedua calon mempelai sambil meninjau lokasi dan mengecek apakah semua sudah siap untuk acara esok hari.

Sultan bersama Permaisuri serta kerabat akan menemui calon mempelai pria dan keluarganya di Bangsal Kasatriyan. Di Bangsal Kasatriyan ini, kedua calon besan akan berbincang untuk saling mengakrabkan diri. Seusai berbincang, Sultan akan menengok kamar pengantin di Bangsal Kasatriyan dan melihat apakah semua sudah beres.

Selesai mengecek persiapan di Bangsal Kasatriyan, Sultan bersama Permaisuri dan rombongan kemudian mengunjungi calon mempelai wanita ke Sekar Kedhaton.

Calon mempelai wanita ditemani dengan keluarga dan beberapa Abdi Dalem wanita berada di Bangsal Sekar Kedhaton. Sama halnya di Bangsa Kasatriyan, disini Sultan juga melihat kesiapan calon mempelai wanita dan ubarampe untuk pernikahan. Layaknya orang tua pada umumnya, Sultan ingin pernikahan putrinya berjalan sempurna, oleh karena itu Sultan menyempatkan untuk melihat langsung persiapan pernikahan putrinya.

Pada malam Midodareni, calon mempelai putri harus tidur setelah jam 12 malam untuk menanti datangnya bidadari. Bidadari ini akan menganugerahkan kecantikan kepada sang calon mempelai. Makna Midodareni sendiri adalah untuk menyucikan diri dan menyiapkan mental untuk acara pernikahan.

Upacara Midodareni berakar dari cerita legenda Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan. Dewi Nawangwulan adalah seorang bidadari dari khayangan yang memiliki anak seorang manusia. Dewi Nawangwulan berjanji akan turun ke bumi kelak jika anaknya yang bernama Dewi Nawangsih menikah. Dengan demikian, upacara Midodareni diambil dari cerita turunnya Dewi Nawangwulan untuk menemui anaknya pada saat upacara Midodareni.

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.