Paes Ageng: The Kraton Yogyakarta Style of Bridal Makeup

English | Indonesia

The Paes Ageng bridal attire and makeup of Yogyakarta is known to be beautiful and contains a good meaning in each of its facial, clothing, and accessory details.

The Paes Ageng historically originates from the wedding tradition of the Kraton, but nowadays it is also used in common weddings. In the past, only the royal relatives were allowed to apply it. It was in the time of Sultan Hamengku Buwono IX that people outside the royal family began to be permitted to adopt the wedding appearance. It has expanded ever since, becoming a trend among the commoners.

In the course of Yogyakarta Royal Wedding, the Paes Ageng is first put on in the Panggih (the bride and the groom’s reunion after officially married). Every element is beautiful, meticulous, and notably complex. Besides, there is a good meaning assigned to each detail.

During the Panggih, the bride will put on:
r pakaian adat wanita paes

ilustrasi : buku “Sejarah dan Warisan Budaya Kraton Jogja”

· Cunduk Mentul
The cunduk mentul refers to the 5 pedicel ornaments put on the back side of the bride’s head. The one in the middle is usually higher than the others. They altogether symbolize the four main cardinal directions and one upward destination, God the Almighty.

· Sanggul Bokor
The sanggul bokor is the bride’s hairdo consisting of a smooth bun at the nape of the neck, decorated with a crochet-work of jasmines. On the right-bottom of the hairdo, there is an adornment of jasmines in a form that resembles an elephant’s trunk.

· Cengkorongan
The cengkorongan is the pattern drawn on the bride’s forehead, coming out from the hairline. It signifies the form of a lotus to symbolize purity, meaning that the bride is a pure woman (virgin). Along its edge, the cengkorongan has golden powder (called prada).
The cengkorongan consists of three sections called pangunggul, pangapit, and panitis. The pangunggul is the biggest one in the middle, signifying “the greatest person”. The pangapit sections are drawn on both sides, and symbolize the guards, of the pangunggul. The panitis parts are on the farthest sides of the forehead, conveying a message that one must be careful, not taking anything for granted, and able to distinguish the good from the bad.
To form the cengkorongan, the fine hair on the bride’s forehead must be shaved. This shaving ritual is called Halup-halupan and done after the Siraman (the cleansing ceremony). The Halup-halupan contains a wish for the bride’s misfortune or bad traits to be gone.

· Citak
The citak is the diamond-shaped facial adornment put in the middle of the eyebrows and made of a betel vine leaf. It is intended to ward off troubles.

· Deer-horn Eyebrows and Eye Stitching
The bride’s eyebrows are extended outward to form two branches like deer horns. Deers are seen as strong animals, and the bride is expected to be tough and strong as they are.
The eye stitching is not real stitches, but black lines extending from the outer corners of the eyes to the temples. The lines ending on the temples mean that the head is the center of wisdom. This also suggests a wish that the couple’s minds can go hand in hand harmoniously.

· Three-Stack Necklace
The three-stack necklace represents the three phases of human life, i.e. birth, marriage, and death.

· Dragon Bracelets
The dragon bracelets are worn on the bride’s and the groom’s arms. The dragon head faces backwards and is intended to repel bad luck.

· Dodotan
The dodotan is the attire worn by the bride and the groom, consisting of a cinde cloth and a dodotan cloth for each. The dodotan measures a total of 4–5 meters in length. Usually, it takes the motif of semen raja that symbolizes a wish for kingly lives for both the bride and the groom. The motif for the cinde cloth shows homage to Goddess Sri (the Goddess of Fertility) that represents prosperity.

As for the groom, he will put on:
r pakaian adat pria paes

ilustrasi : buku “Sejarah dan Warisan Budaya Kraton Jogja”

· Kuluk
A kuluk is a special head wear (similar in shape to a fez). If the groom is the one side of the marrying couple that comes from the royal family, the kuluk for him will be blue. If he enters into the marriage as the royal family’s son-in-law, he will wear a white one. On the back of the kuluk, there is a long bundle of hair as an ornament. This aims to imitate bygone princes who always had long hairs.

· Sumping
The sumpings are a pair of accessories for the groom’s ears. These triangle-shaped ornaments are put on the upper ends of the ears. They represent the hope that the groom’s hearing will be sharp and sensitive to the situation around him.

· Three-Stack Necklace

· Keris (the Javanese creese)
There is no special makeup for the groom. Even the cloth material in which he is dressed is the same with the bride’s. Only, the cinde and dodotan are worn to cover the body part from the navel down.
All the makeup process for the wedding of GKR Hayu & KPH Notonegoro will be entrusted to Tienuk Riefki. She has been a trusted makeup artist of the family of Sultan Hamengku Buwono X. Before commencing the wedding’s preparation, Riefki will first fast for a week. This fasting will be performed to obtain an inner peace and as a prayer for the success of the wedding events.

Paes Ageng: Rias Pengantin Pakem Kraton Yogyakarta

Busana dan Tata Rias Paes Ageng Yogyakarta dikenal indah dan memiliki makna baik pada setiap detail wajah, busana, dan aksesorisnya.

Tata rias Paes Ageng berasal dari sejarah pernikahan di Kraton yang lalu saat ini banyak digunakan juga untuk pernikahan masyarakat umum. Dahulu kala, Paes Ageng hanya boleh digunakan oleh kerabat Kraton saja. Semenjak era Sultan Hamengku Buwono IX, Paes Ageng mulai diijinkan untuk dikenakan di luar Kraton. Tata rias Paes Ageng lalu berkembang, dan menjadi tren di kalangan masyarakat umum.

 

Paes Ageng digunakan mulai pada saat acara Panggih pada pernikahan Kraton Yogyakarta. Detail dandanannya indah, detail, dan dikenal rumit. Di samping itu, terdapat pula makna-makna baik di balik setiap detailnya.

 

Saat upacara Panggih, mempelai wanita akan mengenakan:

r pakaian adat wanita paes

ilustrasi : buku “Sejarah dan Warisan Budaya Kraton Jogja”

·         Cunduk Mentul

Cunduk Mentul adalah 5 buah hiasan yang berbentuk tangkai bunga yang dipasang di atas kepala pengantin wanita. Cunduk Mentul yang berada tengah biasanya lebih tinggi dari yang lain. Cunduk Mentul merupakan simbol empat arah mata angin dan satu tujuan, yakni Tuhan YME.

 

·         Sanggul Bokor

Sanggul Bokor adalah bentuk rambut yang digelung di belakang dan berbentuk bokor serta dihiasi rajutan bunga melati. Bagian bawah kanan sanggul dipasang roncean melati yang berbentuk belalai gajah.

 

·         Cengkorongan

Cengkorongan adalah pembuatan pola dibagian dahi dipinggiran rambut. Cengkorongan ini berbentuk bunga teratai yang bermakana kesucian dan menandakan kalau pengantin perempuan masih suci. Pada sisi Cengkorongan akan dibubuhkan bubuk emas (prada) di sisinya.

Cengkorongan terdiri atas pangunggul, pangapit, dan panitis. Pangunggul terletak paling besar ditengah dan memiliki makna “orang yang paling unggul”. Pengapit terletak di kanan kiri pangunggul dan merupakan simbol pengawal dari pangunggul. Kemudian panitis terletak di bagian dahi paling pinggir, maknanya adalah bahwa orang harus teliti, tidak menelan mentah-mentah begitu saja sesuatu hal, dan harus bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk.

Untuk membentuk cengkorongan, rambut halus di dahi mempelai wanita harus dikerik terlebih dahulu. Upacara mengerik ini dinamakan halup-halupan dan dilakukan setelah upacara siraman. Halup-halupan memiliki makna harapan agar hal atau sifat-sifat buruk pada mempelai wanita hilang.

 

·         Citak

Citak adalah sebuah riasan berbentuk layang-layang kecil yang terletak di antara alis dan terbuat dari daun sirih. Citak digunakan untuk menolak bala.

 

·         Alis Tanduk Rusa dan Jahitan Mata

Alis mempelai wanita akan dibentuk dengan ujung bercabang dua seperti layaknya tanduk rusa. Rusa diibaratkan sebagai hewan yang perkasa, sehingga diharapkan pengantin pun akan tangguh dan perkasa.

Sedangkan Jahitan Mata adalah dibentuknya dua garis hitam yang digambar dari ujung mata menuju dan menyatu berujung di kepala. Ujungnya ada di kepala karena merupakan simbol bahwa pusat pemikiran menjadi satu ke arah kepala. Hal ini bermakna bahwa diharapkan pemikiran dari kedua mempelai dapat menjadi satu.

 

·         Kalung Tiga Susun

Kalung tiga susun melambangkan tiga tahapan kehidupan manusia, yaitu: lahir, menikah, dan meninggal.

 

·         Gelang Naga

Gelang naga dipakai di lengan pengantin. Kepala naga menghadap ke belakang dan memiliki makna untuk menolak bala.

 

·         Dodotan

Dodotan adalah pakaian yang dikenakan pengantin. Terdiri dari kain cinde dan dodotan itu sendiri. Kain dodot memiliki ukuran 4-5 meter. Biasanya, kain dodot ini menggunakan motif semen raja yang memiliki makna agar pengantin mempunyai hidup seperti raja. Motif cinde sendiri melambangkan penghormatan kepada Dewi Sri (dewi padi) yang melambangkan kemakmuran.

Sedangkan, pengantin pria akan mengenakan:

r pakaian adat pria paes

ilustrasi : buku “Sejarah dan Warisan Budaya Kraton Jogja”

·         Kuluk

Kuluk adalah penutup kepala (berbentuk semacam peci tinggi). Jika mempelai pria berasal dari keluarga Kraton maka Kuluk yang digunakan adalah Kuluk warna biru, namun jika mempelai pria adalah menantu Kraton maka yang digunakan warna putih. Di belakang Kuluk dipasang hiasan berbentuk rambut panjang. Hal ini menggambarkan pangeran-pangeran zaman dahulu yang selalu berambut panjang.

 

·         Sumping

Sumping adalah hiasan di telinga mempelai pria. Sumping diletakkan di atas daun telinga dan berbentuk segitiga. Sumping merupakan pengharapan agar pendengaran pengantin laki-laki tajam dan peka terhadap kondisi di sekitarnya.

 

·         Kalung 3 Susun

 

·         Keris

Tidak ada riasan khusus untuk pengantin laki-laki. Kain yang digunakan pun sama dengan pengantin perempuan. Hanya saja kain cinde dan dodotan dikenakan pada pusar ke bawah.

Seluruh proses merias untuk pernikahan GKR Hayu & KPH Notonegoro dipercayakan kepada Tienuk Riefki. Tienuk Riefki merupakan perias kepercayaan keluarga Sultan Hamengku Buwono X. Untuk persiapan pernikahan besok, Tienuk mendahuluinya dengan melakukan ritual puasa selama seminggu. Ritual puasa ini dilakukan agar batin menjadi tenang sekaligus doa agar acara pernikahan besok berjalan lancar.

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.