Pamitan

English | Indonesia

r kraton wedding pamitan3

The Pamitan, or the Farewell, was the conclusion of the whole wedding ceremony. It was held on Wednesday (10/23) night after the Reception in the Kepatihan Complex. At 7.50pm, KPH Notonegoro and GKR Hayu departed from Bangsal Kasatriyan to head to the main hall of Gedhong Jene.

GBPH Cakraningrat S.E. and KGPH Hadiwinoto with their own consort led the procession. Behind the royal couple, Dr GBPH Suryametaram and Ir GBPH Suryaningrat were walking side by side, followed by KPH Notonegoro’s parents, Cavalry Colonel (Rtd.) Sigim Mahmud and Raden Ayu Nusye Retnowati. The Kraton and KPH Notonegoro’s relatives were also seen taking part in the occasion. GKR Hayu and KPH Notonegoro, in kebaya tangkeban and white atela traditional attires respectively, together with the group of escorting families were welcomed by Sultan Hamengku Buwono X and GKR Hemas.

In Gedhong Jene, GKR Hayu and KPH Notonegoro along with the groom’s parents were seated on the chairs set in the south side facing north, while KGPH Hadiwinoto and GKR Pembayun and the others on the chairs set the north side facing south. Sri Sultan Hamengku Buwono X and GKR Hemas had been sitting on the center-west side of the hall facing east to later lead the ceremony.
In the Pamitan, Sri Sultan Hamengku Buwono X delivered a couple of messages and advices to the bride and the groom on marriage life—that as a married couple it was of utmost importance for them to always respect, value, and complete one another. The Sultan also rightfully emphasized the significance of communication and gender equality.

“As the elders say, we must be able to build a bale somah, a house where ourselves and our family, our children, our brothers and sisters, can live peacefully and comfortably. Valuing each other, respecting one another. Sincerity is important, as in a marriage life no one is winning or losing,” said the Sultan. “Marriage is a way to achieve happiness. Be honest, truthful. Anger is useless. Speak well, carefully, and wisely. Let go off your selfishness that may insult the feelings of your husband or wife. Neither the husband nor the wife may be put below the other. Both are equal in the effort of building a family,” he continued. The Sultan also said that the couple need to synchronize their thoughts and steps as they are no longer separate individuals. They had to be able to understand the situation and condition, or in Javanese term, empan papan adu rasa. “Build an intensive and open communication. That is one thing very important,” the Sultan said.

KPH Notonegoro responded by saying that he, his wife, and the rest of his family asked for forgiveness for any mistakes during their stay in the Royal Palace. In addition, he also bid farewell to the Sultan. “We would like to request for blessings as we are moving to New York,“ he said.

The ritual of Sungkeman closed the event of the night. GKR Hayu and KPH Notonegoro as well as KGPH Hadiwinoto and GKR Pembayun and the others of the escort then returned to Gadri Bangsal Kasatrian and took a rest for a moment in Gedhong Srikaton to have dinner.

Amidst the end of the ceremony, KRT Yudahadiningrat, representing the wedding committee, told the couple to keep developing themselves as individuals and to take part in bringing the Kraton forward in the modern world. The Sultan approached the journalists a moment later and told them, “My gratitude goes to all of you from both electronic and print media, who have been spreading news on the process of the wedding in the last couple of days. I would also like to apologize on behalf of the committee in case there were any misunderstandings in facilitating and communicating with you.”

The royal couple and the groom’s parents departed from the venue through the Regol Magangan. Ir GBPH Suryadiningrat, Dr GBPH Suryametaram, and their wives were also there to see off the departure of GKR Hayu and KPH Notonegoro as newlyweds ready to sail into marriage life.


Upacara Pamitan merupakan penutup dari serangkaian acara pernikahan secara keseluruhan. Pamitan dilaksanakan Rabu (23/10) setelah acara resepsi di Komplek Kepatihan. Tepat pukul 19.50, KPH Notonegoro didampingi GKR Hayu berangkat meninggalkan Bangsal Kasatriyan menuju ruang utama Gedhong Jene. Upacara Pamitan merupakan penutup dari serangkaian acara pernikahan secara keseluruhan. Pamitan dilaksanakan Rabu (23/10) setelah acara resepsi di Komplek Kepatihan.

Keberangkatan ke Gedhong Jene dipimpin oleh GBPH Cakraningrat SE diikuti KGPH Hadiwinoto sarimbit. Di belakang KPH Notonegoro dan GKR Hayu, nampak Dr GBPH Suryametaram dan Ir GBPH Suryaningrat berjalan beriringan diikuti orang tua KPH Notonegoro, Kolonel Kavaleri (Purn) Sigim Mahmud dan Raden Ayu Nusye Retnowati. Selain itu para kerabat Kraton dan kerabat KPH Notonegoro juga nampak mengikuti upacara Pamitan di Gedhong Jene. GKR Hayu yang mengenakan kebaya tangkeban dan KPH Notonegoro yang mengenakan baju atela putih beserta rombongan tiba disambut oleh Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas.

Di dalam Gedhong Jene, GKR Hayu dan KPH Notonegoro beserta orangtua dari pengantin pria duduk di kursi sebelah selatan menghadap utara, sedangkan KGPH Hadiwinoto dan GKR Pembayun beserta rombongan duduk di kursi sebelah utara menghadap ke selatan. Sedangkan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas duduk di tengah sebelah barat menghadap timur sebagai pemimpin upacara.

Dalam upacara tersebut, Sri Sultan HB X menyampaikan beberapa wejangan dan nasihat kepada kedua mempelai pengantin sebagai bekal mereka untuk mengarungi kehidupan rumah tangga. Intinya bahwa dalam berumah tangga harus mengedepankan sikap saling menghormati, meng hargai, dan mengisi. Sultan juga banyak berpesan tentang pentingnya komunikasi dan kesetaraan gender dalam kehidupan pernikahan.

“Kalau orang tua mengatakan itu, kita harus dapat membangun bale somah, yaitu bagaimana rumah yg kita tempati, keluarga yang kita bangun dengan seluruh anak cucu dan saudara-saudara akan penuh kedamaian, penuh rasa nyaman. Saling menghargai, saling menghormati. Keikhlasan itu sangat penting, dalam sebuah pernikahan tidak ada yang menang dan kalah. ” pesan Sultan. “Menikah itu untuk mencapai kebahagiaan. Berbicaralah terus terang, apa adanya. Tidak perlu harus marah, susunlah kata-kata yang baik, arif, dan bijak. Hilangkan rasa ingin menang sendiri yang dapat menyinggung perasaan suami atau istri. Baik, suami maupun istri, tidak ada yang harus direndahkan. Semua setara dalam upaya membangun rumah tangga.” lanjut Sultan lagi. Sultan juga menyampaikan bahwa kedua mempelai harus mempersatukan cara berfikir dan melangkah karena keduanya sudah tidak lagi hidup sendiri. Mereka harus empan papan adu rasa (tahu situasi dan kondisi). “Bangunlah komunikasi yang intens dan terbuka. Itu adalah sesuatu yang sangat penting.” ucap Sultan.

KPH Notonegoro pun menjawab pernyataan Sri Sultan HB X bahwa dirinya beserta istri dan keluarga besar memohon maaf jika dalam tiga hari terakhir terdapat kesalahan selama tinggal di Kraton. “Kami berdua ingin minta restu karena kami berdua akan pindah ke New York “, tambahnya.

Setelah itu acara kemudian ditutup dengan sungkeman. Seusai Pamitan, GKR Hayu dan KPH Notonegoro beserta KGPH Hadiwinoto dan GKR Pembayun dengan diikuti rombongan kembali ke Gadri Bangsal Kasatriyan dan istirahat sejenak di Gedhong Srikaton untuk menikmati hidangan malam.

Di sela-sela akhir acara, KRT Yudahadiningrat, selaku panitia pernikahan berpesan kepada kedua mempelai agar terus mengembangkan diri dan mengembangkan Kraton melalui kemampuan IT yang dimilikinya. Tak berapa lama, Sultan lalu menghampiri awak media untuk menyampaikan beberapa pesan, “Saya menyampaikan rasa terima kasih kepada teman-teman semua. Baik media elektronik maupun surat kabar yang selama ini beberapa hari telah memberitakan jalannya pernikahan. Saya atas nama panitia mohon maaf sebesar-besarnya apabila dalam pelayanan di dalam membangun komunikasi dengan teman-teman media ada miskomunikasi.”

Berakhirnya upacara pamitan disertai dengan berangkatnya kedua mempelai beserta orangtua mempelai pria kembali ke rumah. Mereka keluar melalui Regol Magangan. Ir GBPH Suryadiningrat beserta pasangan dan Dr GBPH Suryametaram beserta pasangan pun turut mengantarkan kepergian GKR Hayu dan KPH Notonegoro sebagai pengantin yang telah siap mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga.

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.