Siraman

English | Indonesia
r-kraton-wedding-siraman15

The Siraman ritual was carried out in two places, in Bangsal Sekar Kedhaton for the bride, GKR Hayu, and in Gedhong Pompa Bangsal Kasatriyan for the groom, KPH Notonegoro, on Monday (10/21) at 11.00. Siraman is a ritual in which the newlyweds were bathed to clean the body, as a symbol of physical and spiritual purification.

Before the Siraman, while waiting for KPH Notonegoro to be picked up at Mangkubumen, GKR Hayu was doing the Sungkeman, where she asked for blessings from her parents. GKR Hayu, in a pinkish Kebaya outfit, went out from Kraton Kilen accompanied by BRAy Suryadiningrat and BRAy Suryametara. She did the Sungkeman in Pendopo Kraton Kilen, first to Sri Sultan Hamengku Buwono X and then to GKR Hemas.

GKR Hayu together with GKR Hemas, GKR Pembayun, BRay Suryadiningrat, and BRay Suryametaram moved to Sekar Kedhaton afterwards for the Siraman. Behind them an entourage of Bedoyo Manten dancers were bringing the necessary umbarampes. The umbarampes consisted of a mirror, toiletries and some scents, towels, and several teapots complete with the cups. All these items were brought on trays.

The Siraman ritual began with GKR Pembayun sending GKR Maduretna and several royal servants to bring the seven-spring water to be used to bathe the groom. The water was brought from Bangsal Sekar Kedhaton to Bangsal Kasatriyan.

In the meantime, the preparation for the Siraman started in Sekar Kedhaton as GKR Maduretna and the entourage departed to Bangsal Kasatriyan.

They were received by KGPH Hadiwinoto in Bangsal Kasatriyan. A royal servant then carried the water to Gedhong Pompa where the Siraman took place.

The ritual started after GKR Maduretna came back from Bangsal Kasatriyan. GKR Hayu wore a pasadan, a cloth with a traditional pattern called Grompol, covered by another cloth with a Sidoasih pattern. She then walked to the bathroom in Bangsal Sekar Kedhaton accompanied by GKR Hemas, GKR Pembayun, and the entourage.

The Siraman was preceded by a prayer led by Nyai Kanjeng Raden Penghulu Diponingrat as the penghulu, the overseer of the ritual, and then the first pouring by GKR Hemas and followed by three royal relatives, Martha Tilaar, and BRA Mooryati Soedibyo in turn. An ablution ritual and prayers led by Nyai Kanjeng Raden Penghulu Diponingrat ended the Siraman. After the ablution, the pottery that had been used to contain the water was smashed in front of the bride by GKR Hemas. The pottery crushing symbolizes the pecah pamor, which means the revelation of the bride’s charm and beauty so that she would be more beautiful and manglingi, or making people fail to recognize her, due to her extravagant beauty.

As the ritual was over, GKR Hayu changed her attire to a Sidomukti-patterned cloth covered by a Sidoluhur-patterned cloth. She then moved from the Siraman location to Bangsal Sekar Kedhaton accompanied by Tienuk Riefki, the make-up artist.

After performing the Siraman in Sekar Kedhaton, GKR Hemas and the entourage moved to Gedhong Proboyekso to do the Halup-halupan with Tienuk Riefki. Halup-halupan is the shaving of the bride’s front hair to shape a cengkorongan, a special shape on the forehead. This was the initial ritual of Paes Ageng Make-Up. (More details about Paes Ageng, click here)

As it ended, GKR Hemas and the entourage left Sekar Kedhaton and moved to Bangsal Kasatriyan to do the Siraman for KPH Notonegoro. The Siraman ritual for KPH Notonegoro was conducted in the same way as that done to GKR Hayu. Here, KPH Notonegoro’s mother and the female elders of his family also took the chance to pour the water. The Siraman for KPH Notonegoro commenced at 11.30.

During the occasion, KPH Notonegoro wore a cloth with the Grompo pattern, while after that, he changed to a Sidoluhur-patterned cloth covered by a Sidoasih-patterned cloth. Having finished the Siraman in Bangsal Kasatryian, KPH Notonegoro went out from Gedhong Pompa escorted by Ir GBPH H Suryadiningrat, Dr GBPH Suryametaram, and the entourage. After resting for a while, GKR Hemas and the others returned to Bangsal Sekar Kedhaton.

Throughout the ceremony GKR Hemas and KPH Notonegoro’s mother were dressed in golden Kartini-fashioned kebaya clothings, while GKR Hayu’s sisters in light blue and the royal relatives in purple.

Upacara Siraman dilakukan di dua tempat, di Bangsal Sekar Kedhaton untuk GKR Hayu (calon mempelai wanita) dan di Gedhong Pompa Bangsal Kasatriyan untuk KPH Notonegoro (calon mempelai pria) pada Senin (21/10) sekitar pukul 11.00. Siraman adalah upacara memandikan calon mempelai yang disertai dengan niat membersihkan diri, sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin.

Sebelum melakukan Siraman, sembari menunggu KPH Notonegoro dijemput dari Mangkubumen, GKR Hayu melaksanakan sungkeman dengan kedua orang tuanya. GKR Hayu yang menggunakan kebaya bernuansa merah muda ini keluar dari dalam Kraton Kilen didampingi oleh BRAy Suryadiningrat dan BRAy Suryametaram. GKR Hayu melakukan sungkeman di Pendopo Kraton Kilen, pertama-tama kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X kemudian dilanjutkan kepada GKR Hemas.

Setelah melakukan sungkem, GKR Hayu bersama GKR Hemas dan GKR Pembayun didampingi BRAy Suryadiningrat dan BRAy Suryametaram beranjak menuju Sekar Kedhaton. Di belakangnya, terdapat rombongan penari Bedoyo Manten yang membawa ubarampe untuk siraman. Ubarampe yang dibawa antara lain, cermin, alat-alat mandi dan wewangian, handuk, serta beberapa teko serta cangkirnya. Semua ubarampe dibawa menggunakan baki.

Upacara Siraman diawali oleh GKR Pembayun yang mengutus GKR Maduretna bersama dua Abdi Dalem untuk membawa air dari tujuh sumber yang akan digunakan untuk siraman calon mempelai pria. Air tersebut lalu dibawa dari Bangsal Sekar Kedhaton menuju Bangsal Kasatriyan.

Sementara itu, saat GKR Maduretna dan rombongan berangkat menuju Bangsal Kasatriyan, dimulailah persiapan Siraman di Sekar Kedhaton, GKR Hayu juga berganti pakaian untuk Siraman.

GKR Maduretna dan rombongan yang tiba di Bangsal Kasatriyan diterima oleh KGPH Hadiwinoto. Air yang dibawa GKR Maduretna dibawa masuk oleh Abdi Dalem menuju Gedhong Pompa untuk digunakan pada upacara Siraman KPH Notonegoro.

Upacara siraman dimulai setelah GKR Maduretna kembali dari Bangsal Kasatriyan. Nampak GKR Hayu mengenakan pasadan kain motif Grompol yang diselimuti kain motif Sidaasih sebagai busana untuk siraman. Ia lalu berjalan menuju kamar mandi Bangsal Sekar Kedhaton bersama dengan GKR Hemas, GKR Pembayun, dan rombongan.

Siraman diawali dengan doa yang dipimpin oleh Nyai Kanjeng Raden Penghulu Dipodiningrat, selaku penghulu (pendoa) putri di Kraton Yogyakarta, kemudian dilanjutkan dengan siraman pertama oleh GKR Hemas, tiga kerabat Kraton, Martha Tilaar dan BRA Mooryati Soedibyo. Siraman diakhiri dengan wudhu dan doa yang dipimpin oleh Nyai Kanjeng Raden Penghulu Diponingrat. Setelah berwudhu, kendi yang digunakan untuk berwudhu tadi dipecahkan di depan GKR Hayu oleh GKR Hemas. Pecahnya kendi ini menjadi simbol pecah pamor yakni keluarnya pesona dari calon mempelai. Diharapkan, setelah ini, calon mempelai tersebut akan semakin cantik dan manglingi (membuat setiap orang tidak mengenal saking cantiknya).

Selesai siraman, GKR Hayu mengganti busananya dengan kain motif Sidomukti yang diselimuti kain motif Sidoluhur. GKR Hayu kemudian beranjak dari lokasi Siraman dan menuju Bangsal Sekar Kedhaton ditemani oleh Tienuk Riefki selaku perias.

Setelah selesai melakukan Siraman di Sekar Kedhaton, GKR Hemas beserta rombongan beranjak menuju Gedhong Proboyekso untuk melakukan halup-halupan bersama Tienuk Riefki. Halup-halupan adalah proses mengerik rambut depan pengantin untuk membentuk cengkorongan. Proses ini juga menjadi proses yang mengawali Tata Rias Paes Ageng. (tentang Paes Ageng, selengkapnya bisa dibaca di sini.)

Selesai melakukan halup-halupan, GKR Hemas beserta rombongan meninggalkan Sekar Kedhaton dan beranjak menuju Bangsal Kasatriyan untuk melakukan Siraman bagi KPH Notonegoro. Proses Siraman yang dilakukan sama dengan Siraman untuk GKR Hayu. Di sini, Ibunda KPH Notonegoro dan sesepuh perempuan dari KPH Notonegoro juga ikut mengguyurkan air. Siraman untuk KPH Notonegoro dimulai sekitar pukul 11.30.

Saat Siraman, KPH Notonegoro mengenakan kain motif Grompol, sedangkan setelah selesai Siraman, KPH Notonegoro berganti pakaian dengan kain motif Sidoluhur yang diselimuti kain Sidoasih. Selesai melakukan Siraman di Bangsal Kasatriyan, KPH Notonegoro keluar dari Gedhong Pompa dengan diapit Ir GBPH H Suryadiningrat dan Dr GBPH Suryametaram diikuti rombongan. Setelah istirahat sejenak, GKR Hemas beserta seluruh rombongan kembali ke Bangsal Sekar Kedhaton.

Selama upacara Siraman, GKR Hemas dan Ibunda KPH Notonegoro mengenakan kebaya kartini warna ungu dengan corak emas. Sementara itu saudara perempuan GKR Hayu kebaya kartini warna biru muda dan kebaya warna ungu dikenakan oleh kerabat Kraton.

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.