EVENTS

 

Siraman

English | Indonesia

r siraman putra

The Symbol of Self-Purification

After the Nyantri, the event will be followed by the Siraman ritual. The word siraman is derived from the root siram which means ‘to bathe’. Thus siraman means to bathe both the bride and the groom, with the will to purify them so that they can be clean and pure physically and spiritually. The Siraman ritual will be carried out in Bangsal Sekar Kedhaton as for the bride, and in Bangsal Kasatriyan as for the groom.

r siraman putri

The bride will sit on the bathroom of Bangsal Sekar Kedhaton, dressed in kemben (a traditional Javanese tube-dress) and plaits of jasmine. A Nyai Penghulu (a wedding headwoman) will then offer a prayer, asking for blessing from The Almighty.

The water used for Siraman is taken from seven springs located around the Palace. The water will be added with kembang setaman, plaits of various flowers. This water will then be used to bathe the bride. The first one to bathe the bride is her mother, followed by the Kraton elders.

After being bathed, the bride will then take ablution using the water placed in a pottery. The pottery will then be thrown until it breaks out in front of the bride. The crashing of the pottery symbolizes the concept of pecah pamor, which means the revelation of the bride’s charm. It implies an expectation that the bride will be even more beautiful and turns out mangling (making people fail to recognize her due to her extravagant beauty).

Finished with the bathing, the ritual is continued with putting make-ups on the bride. This will be carried out at the east terrace of Sekar Kedhaton building. One of the things to do in the make-up is shaving fine hair on the bride’s forehead. This symbolizes self-purification from negative aspects.

Meanwhile, the water taken from seven springs, which is used to bathe the bride, will be delivered by one of the Sultan’s married daughters to the bathroom at Bangsal Kasatriyan (Gedhong Pompa). This water will then be used in the Siraman for the groom.

At Bangsal Kasatriyan, the groom will be waiting along with his family and entourage. The Siraman will be carried out by the bride’s mother, the groom’s mother, and the other elders. It will be carried out in the same order as such with the bride.

The whole process of Siraman will be carried out by women. This is to honor the women who have taken good care of their children. The number of persons bathing the bride and the groom must be odd. The odd number is derived from the Hindu belief of the Trinity (Brahma, Vishnu, Shiva), which is also believed to keep off perils.

The Siraman ritual is carried out as a symbol of self-purification. Getting married is seen as entering a new phase of life, so that through Siraman it is expected that the bride and the groom will be purified either physically or spiritually.


Siraman

r siraman putra

Simbol Menyucikan Diri

Setelah upacara Nyantri, acara akan dilanjutkan dengan Siraman. Kata Siraman berasal dari kata siram yang berarti mandi. Siraman mengandung arti memandikan calon mempelai yang disertai dengan niat membersihkan diri agar menjadi bersih dan murni atau suci lahir dan batin. Upacara Siraman akan dilakukan di Bangsal Sekar Kedhaton untuk calon mempelai wanita, dan di Bangsal Kasatriyan untuk calon mempelai pria.

r siraman putri

Calon mempelai wanita akan duduk di kamar mandi di Bangsal Sekar Kedhaton dengan kemben dan rangkaian bunga melati membalut tubuhnya. Seorang Nyai Penghulu lalu memanjatkan doa, meminta karunia dari Sang Maha Kuasa.

Air yang digunakan untuk Siraman berasal dari tujuh mata air yang ada di lingkungan Kraton. Air tersebut akan ditaburi kembang setaman, yakni roncean bunga-bunga. Air ini kemudian akan diguyurkan ke tubuh calon mempelai wanita. Guyuran pertama dilakukan oleh ibunda calon mempelai wanita lalu disusul oleh sesepuh keluarga Kraton.

Setelah disirami, calon mempelai wanita kemudian akan berwudhu menggunakan air yang ada di dalam sebuah kendi. Kendi tersebut kemudian akan dipecahkan di depan calon mempelai wanita. Pecahnya kendi ini memiliki simbol pecah pamor yakni keluarnya pesona dari calon mempelai. Diharapkan, setelah ini, calon mempelai tersebut akan semakin cantik dan manglingi (membuat setiap orang tidak mengenal saking cantiknya).

Selesai tubuhnya diguyur air dengan kembang setaman, upacara dilanjutkan dengan merias diri. Kegiatan ini dilakukan di emper Sekar Kedhaton sebelah timur. Salah satu proses merias yang dilakukan adalah mengerik rambut dahi calon mempelai perempuan. Hal ini adalah simbol dari pembersihan diri dari hal-hal buruk.

Sementara itu, air dari tujuh mata air yang juga digunakan untuk calon mempelai putri diantarkan oleh salah satu putri Sultan yang sudah menikah ke kamar mandi di Bangsal Kasatriyan (Gedhong Pompa). Air ini akan digunakan untuk upacara Siraman calon mempelai pria.

Di Bangsal Kasatriyan, calon mempelai pria bersama keluarga dan rombongan sudah menunggu. Siraman akan dilakukan oleh ibunda calon mempelai wanita, ibunda calon mempelai pria, dan sesepuh-sesepuh lainnya. Urut-urutannya pun sama seperti yang dilakukan kepada calon mempelai wanita.

Upacara Siraman ini semuanya dilakukan oleh wanita. Alasannya adalah karena para wanita merupakan ibu yang merawat anak-anak. Jumlah orang yang menyirami harus berjumlah ganjil. Jumlah ganjil ini diambil dari kepercayaan Hindu yang melambangkan Trimurti (Brahma, Wisnu, Syiwa) yang juga dipercaya dapat menolak bala.

Siraman dilakukan sebagai simbol menyucikan diri. Menikah dianggap sebagai babak baru dalam kehidupan manusia, sehingga dengan Siraman diharapkan dapat menjadikan seseorang bersih secara jasmani maupun batin.

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.