Synergizing IT and Tradition through Wedding Souvenir

English | Indonesia

r kraton wedding souvenirs17

The souvenir of GKR Hayu & KPH Notonegoro’s wedding is particularly unique. Aside from combining IT, art, and tradition, the making process involved disabled people.

As a person who immerses herself in the field of Information and Technology, GKR Hayu is a meticulous person, including in choosing the souvenir for her wedding. The idea of this royal wedding’s souvenir came from GKR Hayu herself. “It took a long time to find the idea of this souvenir,” said KRT Purwowinoto, one of the abdi dalems, or the royal servants.

Underlying the concept is GKR Hayu’s wish to integrate her own diverse backgrounds—an IT practicitioner, a public figure, and a king’s daughter—in a form of a displayable object. The souvenir will also combine several elements of traditional art, so it will still have some characteristics of Kraton Yogyakarta.

r kraton wedding souvenirs35

It is exclusive and also special because it is handmade. Moreover, the production involved disabled craftspersons. GKR Hayu inherits the concern for disabled people from her mother, who has been known to have a great care for disability. She engaged this group of artisans so that they could take part in this grand event. “I appreciate GKR Hayu’s initiative so much,” admitted Purwowinoto. It is expected to give an opportunity for the disabled craftspersons to show that their works have a quality able to compete with that of normal artisans’. The making of this handmade piece took more or less three months because of its production complexity.

The form remains a secret until now as it is planned to be a surprise for the guests. “If asked what it looks like, we could say it’s something displayable,” said Purwowinoto.

This keepsake will be distributed during the ceremony of Panggih and the Reception. And there is even a touch of modern technology in the taking procedure as each invited guest will have to use the swipe card they have received to take one.

Mensinergikan IT dan Budaya melalui Souvenir Pernikahan

r kraton wedding souvenirs17

Souvenir pernikahan GKR Hayu & KPH Notonegoro memiliki keunikan tersendiri. Selain menggabungkan sentuhan IT, seni dan budaya, proses pembuatannya juga melibatkan para difabel.

Sebagai orang yang bergelut di bidang Informasi & Teknologi (IT), GKR Hayu adalah pribadi yang teliti, termasuk dalam hal pemilihan souvenir untuk pernikahannya. Ide pembuatan souvenir pernikahan GKR Hayu dan KPH Notonegoro murni datang dari GKR Hayu sendiri. “Proses pencarian ide untuk souvenir ini membutuhkan waktu yang lama.” tutur KRT Purwowinoto, salah satu Abdi Dalem Kraton.

 Konsep dasar souvenir adalah keinginan GKR Hayu untuk menyatukan berbagai latar belakang dirinya—yakni sebagai praktisi di bidang IT, sebagai seorang public figure, dan sebagai seorang putri raja—ke dalam satu wujud benda yang dapat di-display. Souvenir tersebut juga memadukan beberapa unsur, yaitu unsur seni-budaya, maka dari itu, souvenir tersebut nantinya tidak terlepas dari nuansa Kraton Yogyakarta.

r kraton wedding souvenirs35

Souvenir tersebut sifatnya eksklusif dan spesial. Bersifat spesial karena souvenir dibuat secara handmade. Selain handmade, pembuatan souvenir yang akan diberikan pembuatannya melibatkan para pengrajin difabel. Kepedulian GKR Hayu terhadap masyarakat difabel diturunkan dari ibundanya,  yang memang sangat concern pada disabilitas.

GKR Hayu melibatkan kelompok difabel ini dengan maksud mereka dapat turut berpartisipasi dalam acara akbar ini. “Saya sangat mengapresiasi ide GKR Hayu ini.” papar Purwowinoto. Hal ini diharapkan bisa memberikan kesempatan pada para pengrajin difabel untuk menampilkan hasil karya kerajinan mereka dengan kualitas yang mampu bersaing dengan pengrajin lainnya. Proses pembuatan souvenir handmade ini kurang lebih memakan waktu sekitar tiga bulan mengingat tingkat kerumitan dalam proses pembuatannya.

Wujud souvenir-souvenir tersebut saat ini masih dirahasiakan dan diharapkan akan menjadi kejutan bagi para tamu. “Kalau ditanya wujudnya, ini adalah sesuatu yang bisa di-display.” tutur Purwowinoto.

Distribusi souvenir dilakukan ketika acara Panggih dan Resepsi, proses pengambilan souvenir pun menggunakan sentuhan teknologi. Masing-masing tamu undangan akan mendapatkan swipe card untuk mengambil souvenir tersebut.

 

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.