Tampa Kaya & Dhahar Klimah

English | Indonesia

r kraton wedding tampa kaya dhahar klimah40

Tuesday (10/22) at around 12am, following the Panggih Ceremony, which was carried out in Tratag Bangsal Kencana, were the rituals of Tampa Kaya and Dhahar Klimah. Tampa Kaya was carried out in the center bedroom of Gedong Purworukmi, while Dhahar Klimah in Gadri Bangsal Kasatriyan. Both of these rituals were held in the same venue, Bangsal Kasatriyan.

Tampa Kaya, which was carried out in the center bedroom of Gedong Purworukmi, was attended only by the family and relatives. In this ritual, KPH Notonegoro sat on the south edge of pasareyan, which means ‘a bed’, while GKR Hayu sat down on the floor in front of him. KPH Notonegoro then poured a pouch filled with ubarampe that consisted of gold coins, seeds, and other wedding accessories. Those accessories symbolize prosperity. GKR Hayu received the ubarampe in her pouch.

During the Tampa Kaya, the couple were escorted by GKR Pembayun. She observed and directed the way, the sitting position, and opened the pouches. The pouches, which symbolize “the living or sustenance”, were made of bamboo covered with a white cloth. The groom’s pouch consists of doits, seeds such as soy beans, corns, hazelnuts, mung beans, and bunga setaman, which consists of several specific flowers such as jasmine, red and white rose, and coupled white champaca.

“Since Mas Noto is working abroad, the doits also include dollars,” said Pringgosupono, an Abdi Dalem who also assisted the event. GKR Hayu then handed her pouch filled with the ubarampe to her mother, GKR Hemas. This pouch delivery completed the ritual of Tampa Kaya.

Finished with the Tampa Kaya, the couple were escorted by Ir GBPH Suryadiningrat and his wife and also Ir GPH Suryametaram heading forth to Gadri Kasatriyan to carry out the Dhahar Klimah ritual. The couple were seated in the middle, while GKR Hemas, the Putra-Putri Dalem or the Royal Children, and the others were on the right and the left side of them. GKR Pembayun and her husband, KPH Wironegoro, also escorted the couple at the dining table. The Royal Children were in Gadri Kasatriyan but did not sit at the dining table.

The dishes served for Dhahar Klimah comprises Yellow Steamed Rice, Jangan Menir, or plain soup which consisted of spinach and sweet corn, Pindan Anthep, which consisted of ox’s lever, and also Ulet-Ulet, or twine-shaped food made of flour in seven colors. Besides, there was also sweet tea.

In this ritual, KPH Notonegoro balled the steamed yellow rice into three balls to be given to GKR Hayu. The steamed yellow rice balls were given along with the side dishes to the GKR Hayu’s plate. She then ate the yellow rice balls and the side dishes prepared by the groom.

Tampa Kaya and Dhahar Klimah were two cultural rituals in a series of wedding ceremony. These rituals symbolize the relationship between a husband and a wife, and also mean that a husband should be ready for the responsibility to provide a living for his wife and the future children. Besides, they also symbolize the responsibility of a wife to wisely keep and manage the given sustenance.

Having finished those two rituals, the newlyweds moved to Gedong Srikaton to take some photographs and had a rest afterwards.

Selasa (22/10) sekitar pukul 12.00 WIB, setelah upacara Panggih yang dilangsungkan di Tratag Bangsal Kencana, dilaksanakan acara Tampa Kaya dan Dhahar Klimah. Tampa Kaya dilaksanakan di kamar tengah Gedhong Purworukmi, sedangkan Dhahar Klimah dilaksanakan di Gadri Bangsal Kasatriyan. Kedua acara ini masih di area yang sama yaitu Bangsal Kasatriyan.

Tampa Kaya yang dilaksanakan di kamar tengah Gedong Purworukmi ini hanya diikuti keluarga dan kerabat. Saat upacara Tampa Kaya ini, KPH Notonegoro duduk di tepi selatan tempat tidur (pasareyan) dan GKR Hayu duduk bersimpuh dibawahnya. KPH Notonegoro kemudian mengucurkan kantong yang berisi ubarampe sebagai lambang kemakmuran.  Kucuran dari kantong tersebut lalu diterima oleh GKR Hayu, juga menggunakan sebuah kantong.

Selama upacara Tampa Kaya berlangsung, kedua mempelai didampingi oleh GKR Pembayun. Beliau membantu dan menuntun untuk mengarahkan jalan, posisi duduk, hingga membukakan kantong. Kantong yang menjadi simbol “pemberian nafkah” ini merupakan kantong yang terbuat dari bambu yang dilapisi kain berwarna putih. Kantong ini berisi uang receh, biji-bijian seperti kedelai, jagung, kemiri, kacang hijau juga bunga setaman yang terdiri dari bunga melati, mawar merah-putih, dan kanthil sejodho.

“Karena Mas Noto kerja di luar negeri, uang recehnya juga ada yang terdiri dari dolar,” ujar Pringgosupono, Abdi Dalem turut membantu acara ini. GKR Upacara Tampa Kaya diakhiri dengan pemberian kantong yang berisi ubarampe dari GKR Hayu ke sang ibunda, GKR Hemas.

Setelah Tampa Kaya, mempelai diapit oleh Ir GBPH Suryadiningrat beserta istri dan Ir GPH Suryamataram menuju Gadri Kasatriyan. Kedua mempelai akan duduk di tengah, sedangkan GKR Hemas, Gusti Putra Putri Dalem dan yang lainnya akan duduk disebelah kanan-kiri mempelai. GKR Pembayun dan sang suami, KPH Wironegoro turut duduk mendampingi mempelai di meja makan. Ketiga Putra-Putri Dalem juga ada di Gadri Kasatriyan namun tidak duduk di meja makan.

Hidangan untuk Dhahar Klimah terdiri dari Nasi Kuning, Jangan Menir atau sayur bening berisi bayam dan jagung, Pindang Anthep yang terdiri dari hati lembu, juga Ulet-Ulet atau makanan dari tepung yang dibuat seperti ulet-uletan tujuh warna, selain itu juga ada teh manis.

Dalam upacara ini, KPH Notonegoro mengepalkan nasi kuning sebanyak tiga kepal untuk GKR Hayu. Kepalan nasi itu terdiri dari nasi kuning yang diisi oleh lauk pauk yang tadi disebutkan. Kepalan nasi dan lauk tersebut lalu diberikan ke piring GKR Hayu. GKR Hayu kemudian memakan nasi kuning dan lauk yang sudah disiapkan suaminya untuknya.

Tampa Kaya dan Dhahar Klimah menjadi salah satu upacara budaya yang melengkapi acara pernikahan. Acara ini menyimbolkan hubungan suami-istri dan juga memiliki arti bahwa seorang suami harus siap dan bisa menghidupi serta menafkahi istri dan anak-anaknya kelak. Begitu juga dengan tugas istri dalam keluarga yang secara bijak dan bertanggung jawab untuk mengatur dan mengelola nafkah yang sudah disediakan oleh suaminya.

Setelah upacara Tampa Kaya dan Dhahar Klimah selesai, kedua mempelai beranjak menuju Gedong Srikaton untuk berfoto bersama sebelum dipersilahkan untuk istirahat.

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.