Tantingan

English | Indonesia

m kraton wedding tantingan9

The Tantingan began on Monday (10/21) at 8.00pm West Indonesian Standard Time (WIST) at the porch of Bangsal Proboyekso. It was a ritual in which the Sultan inquired his daughter GKR Hayu regarding her resolution towards the marriage with KPH Notonegoro.

Attending the event were the other daughters of the Sultan (GKR Pembayun, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, and GKR Bendara), GBPH Prabukusumo, and GBPH Cakraningrat as well as the royal servants on duty.

GKR Hayu, in a charming light green kebaya attire, entered Bangsal Proboyekso with the accompaniment of BRA Suryadiningrat and BRA Suryametaram. The Sultan’s four other daughters and the royal relatives had arrived beforehand.

Sultan Hamengku Buwono X came with the Queen, GKR Hemas, in attires dominated by green, and soon GKR Pembayun brought the bride to get close to the Sultan. GKR Hayu and GKR Pembayun were next to the Sultan on his left while GBPH Prabukusumo and GBPH Cakradiningrat as well as Kanjeng Raden Penghulu Diponingrat and an official from the Government Office of Religious Affairs (KUA) were on the Sultan’s right side.

Some female relatives of the Kraton were sitting on the south part of Gedhong Proboyekso. They looked beautiful in yellow and green clothing. Kanca Abdi Dalem Kaji Selosin sat at the porch of Gedhong Proboyekso, facing westward and face to face with Sultan Hamengku Buwono X.

The ritual began as the Sultan asked the question, “Gusti Kanjeng Ratu Hayu, opo sliramu saguh tak dhaupake karo abdi ingsun Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro? (Gusti Kanjeng Ratu Hayu, are you willing to be married off by I to Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro?)” to which GKR Hayu answered, “Inggih sendika (I am).”

The Tantingan went on in a solemn atmosphere. Normally a closed hall, Bangsal Proboyekso was opened widely this time to provide people with an access to see the process clearly.

After the inquiry session, GKR Hayu signed a wedding letter that had been prepared. A praying session led by Kanjeng Raden Penghulu KRT Drs H Ahmad Kamaludiningrat closed the ritual, and following right after that was the Sungkeman by GKR Hayu to Sri Sultan, in which she kneeled before her father to ask for his blessings. Kanjeng Raden Penghulu KRT Drs H Ahmad Kamaludiningrat, an official from the KUA, and Kanca Abdi Dalem Kaji Selosin withdrawed themselves from Kagungan Dalem Proboyekso afterwards. The Sultan and the Queen, together with GBPH Prabukusumo and GBPH Cakradiningrat, then left Kagungan Dalem Proboyekso to head to Kagungan Dalem Kasatriyan. GKR Pembayun, BRA Suryadiningrat, and BRA Suryametaram also retreated and returned to Kagungan Dalem Sekar Kedhaton after GKR Hayu to carry out the Midodareni.

The Tantingan was originally a ritual in which the Sultan would announce whom he was chosen to marry his son or daughter. In bygone days, royal marriages had to happen through matchmaking. Such practice was wearing away since the era of Sri Sultan Hamengku Buwono IX and the Tantingan subsequently changed into a ritual as it is today. As an element of a royal wedding, it is hoped that this event could also serve as a way to preserve the Kraton’s tradition.

Chants of Tahlil, the repeated recitation of the Islamic confession of faith, were heard one after another after the Tantingan in Panepen Mosque where the ceremony of Mujahadah was held. “This ceremony is filled with prayers or muhajadah, wishing that things will work out well throughout the wedding solemnization tomorrow morning and the subsequent activities. [It ] started with the tahlil chants and ended with the mujhadah prayers,” said KRT Drs H Ahmad Kamaludiningrat, who was a high official entitled Penghageng II Kawedanan Pengulon. It was led by Raden Rio Haji Abdul Ridwan and the twelve members of the Abdi Dalem Kaji, the royal servants entrusted with the Kraton’s religious affairs, and attended among others by two representatives of the KUA. “The Mujahadah is a ceremony that has been practiced since the time of Sri Sultan Hamengkubuwono I and remained observed until today,” he ended the interview while walking out to Regol Kamandungan Lor or Regol Keben.


m kraton wedding tantingan9

Upacara Tantingan dimulai pada Senin (21/10) pukul 20.00 WIB di Emper Bangsal Proboyekso. Tantingan merupakan proses dimana Sultan akan menanyakan kemantapan hati serta kesiapan GKR Hayu untuk menikah dengan KPH Notonegoro.

Dalam acara Tantingan ini, terlihat keempat putri Sri Sultan Hamengku Buwono X, yakni GKR Pembayun yang berpakaian nuansa biru, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, dan GKR Bendara bersama GBPH Prabukusumo dan GBPH Cakraningrat serta Abdi Dalem yang bertugas.

GKR Hayu yang mengenakan kebaya warna hijau muda, masuk Bangsal Proboyekso diapit oleh  BRA Suryadiningrat dan BRA Suryametaram. Sebelumnya GKR Pembayun, GKR Candrakirono, GKR Maduretna dan  GKR Bendara serta kerabat tiba terlebih dahulu.

Setelah Sultan Hamengku Buwono X bersama GKR Hemas dengan busana bernuansa hijau datang, GKR Pembayun mengantarkan GKR Hayu untuk mendekat kepada Sultan. GKR Hayu bersama GKR Pembayun berada di sisi kanan Sultan, sementara itu GBPH Prabukusumo dan GBPH Cakradiningrat serta Kanjeng Raden Penghulu Diponingrat bersama petugas KUA berada di sisi kiri Sultan.

Terlihat kerabat kraton putri yang duduk di sisi sebelah selatan Gedhong Proboyekso. Para kerabat putri berbusana nuansa kuning dan hijau. Kanca Abdi Dalem Kaji selosin hadir di emper Gedhong Proboyekso duduk menghadap arah barat berhadap-hadapan dengan Sultan Hamengku Buwono X.

Acara dimulai ketika Sultan bertanya,”Gusti Kanjeng Ratu Hayu opo sliramu saguh tak dhaupake karo abdi ingsun Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro (Gusti Kanjeng Ratu Hayu apa kamu bersedia saya nikahkan dengan Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro?)”

Kemudian GKR Hayu menjawab,”inggih sendika (Saya bersedia)”

Acara Tantingan yang dilaksanakan di Emper Bangsal Proboyekso ini berlangsung khidmat . Bangsal Proboyekso yang sebenarnya merupakan ruangan tertutup dibuka lebar sebagai akses agar orang bisa melihat dengan jelas.

 Setelah GKR Hayu menjawab pertanyaan sang Ayah, GKR Hayu lalu menandatangani surat nikah yang sudah disiapkan. Acara ini diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Kanjeng Raden Penghulu KRT Drs H Ahmad Kamaludiningrat dan setelah itu dilanjutkan dengan sungkem yang dilakukan GKR Hayu kepada Sri Sultan. Setelah itu, Kanjeng Raden Penghulu KRT Drs H Ahmad Kamaludiningrat, petugas KUA, dan Kanca Abdi Dalem Kaji selosin undur diri dari Kagungan Dalem Proboyekso. Sri Sultan dan GKR Hemas beserta GBPH Prabukusumo dan GBPH Cakradiningrat undur diri dari Kagungan Dalem Proboyekso untuk selanjutnya menuju Kagungan Dalem Kasatriyan. GKR Hayu diikuti GKR Pembayun beserta BRA Suryadiningrat dan BRA Suryametaram juga turut undur diri dan kembali menuju Kagungan Dalem Sekar Kedhaton untuk melaksanakan Midodareni.

Upacara Tantingan ini pada awalnya merupakan sebuah upacara dimana Sultan akan mengumumkan siapa yang akan menjadi istri atau suami dari anaknya yang akan menikah. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu, sebuah pernikahan terjadi atas dasar proses perjodohan. Namun, seiring dengan memudarnya perjodohan sejak era Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Tantingan berubah menjadi acara untuk menanyakan kesiapan pengantin untuk pernikahan yang akan dijalani. Tetap dilaksanakannya acara ini juga menjadi salah satu cara untuk melestarikan budaya Kraton.

Sementara itu,setelah tantingan, terdengar suara tahlil yang saling bersautan dimana sedang diadakannya Mujahadah di Masjid Panepen. “Upacara ini berisi doa-doa atau muhajadah yang dipanjatkan agar acara akad nikah esok pagi dan seterusnya berjalan lancar. Diawali dengan tahlil-tahlil dan diakhiri dengan mujhadah”, ungkap KRT Drs H Ahmad Kamaludiningrat yang juga sebagai Penghageng II Kawedanan Pengulon. Acara dipimpin oleh Raden Rio Haji Abdul Ridwan dan diikuti kedua belas anggota Abdi Dalem Kaji serta dihadiri diantaranya dua orang perwakilan dari KUA. “Mujahadah merupakan upacara yang telah dimulai dari Sri Sultan Hamengkubuwono I dan masih dilestarikan sampai saat ini,” pungkasnya sembari keluar menuju Regol Kamandungan Lor atau Regol Keben.

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.