EVENTS

 

Tantingan

English | Indonesia

r bangsal prabayeksa 1

Sultan melakukan tantingan kepada putrinya di Bangsal Prabayeksa.

An Inquiry to the Bride’s Heart

After the Siraman, the next ritual is Tantingan. Tantingan will be held in Emper Bangsal Prabayeksa at night after the Isya prayer. At this moment, the Sultan, accompanied by the Queen as well as their daughters, inquires about the bride’s resolution towards the marriage between her and the man who has proposed her.

The Kraton’s Penghulu, the Abdi Dalem Pemetakan, and the officer(s) from the Office of Religious Affairs of Kraton District will be the witnesses of the ritual.

In the past, Tantingan was a means to announce who would be married to the Sultan’s daughter; it was because at that time the marriage was a wedlock (arranged by the parents) in which the groom and the bride had not yet known each other normally.

As the time lapsed, the wedlock tradition began to vanish since the era of Sultan Hamengku Buwono IX. Today, the event is meant to inquire the bride’s resolution and preparedness to be married off and is still carried out to preserve the traditional culture of the Kraton. The ritual will also be held in Bagongan dialect (a specific speech level of Javanese used in the Kraton).

Tantingan
Menanyakan Kemantapan Hati

Setelah Siraman, upacara selanjutnya adalah Tantingan. Tantingan akan dilakukan di Emper Bangsal Prabayeksa pada malam hari setelah shalat Isya. Dalam upacara ini, Sultan didampingi Permaisuri dan putri-putrinya, menanyakan kemantapan hati serta kesiapan calon mempelai wanita untuk menikah dengan pria yang sudah meminangnya.

Tantingan akan disaksikan oleh Penghulu Kraton, Abdi Dalem Pemetakan, dan petugas KUA Kecamatan Kraton.

Dahulu kala, upacara Tantingan ini dijadikan sarana untuk memberitahukan siapa yang akan menikahi putri Sultan. Sebab, dulu calon mempelai pria dengan calon mempelai wanita belum saling mengenal karena pernikahan dilaksanakan melalui proses perjodohan.

Seiring berkembangnya zaman, adat perjodohan mulai memudar semenjak era Sultan HB IX. Saat ini, upacara Tantingan dimaksudkan untuk menanyakan kemantapan dan kesiapan calon mempelai wanita untuk dinikahkan. Upacara Tantingan ini tetap dilakukan dengan tujuan untuk melestarikan kebudayaan Kraton dan juga akan dilakukan dengan bahasa Bagongan (bahasa Kraton).

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.