The Kraton and Modernity

English | Indonesia
r-Abdi-Dalem

Kraton Yogyakarta deserves much appreciation for its consistent effort in preserving its norms of customs and traditions in modern time. One may say its existence is the fundamental reason for the conservation of Yogyakarta as a city of culture. As far as possible, the Kraton maintains its customs and traditions that have been passed on by the previous generations.

The Kraton, however, tries to adjust dynamically to keep up with the evolution of life moving on outside the Palace’s towering walls. As said by KRT Purwowinoto, an Abdi Dalem of the Kraton of Yogyakarta, the Sultan himself had a principle that if no longer suitable to the present time, a tradition would be adjusted and changed to make it appropriate. This modification will be according to the dynamics of modernity. “Not entirely left out. The norms and meanings of the traditions that are changed will be preserved to remain faithful to the original,” said Purwowinoto.

An example of this would be the conservation of Kraton’s internal structure as a monarchal organization. The royal servants are still there in Yogyakarta Royal Palace, but they do not look the same as they did in the bygone era. One can see this in the the Kraton’s cultural personnel, who are usually known by the title of Abdi Dalem. They are those who serve and have a duty to maintain the existence of the Kraton culture. Nowadays, not all Abdi Dalem wear kemben (breast cloth) and jarik (wraparound skirt) for women or peranakan attire for men. Most Abdi Dalems put on normal clothes like those worn by people living outside the Royal Palace.

The transformation of Kraton life towards modernity today can also be seen in the relationship of the family of Sri Sultan Hamengku Buwono X. In the years foregone, the Kraton family lived separately. The King and Queen would reside in different places. The daughters would live in Keputren section and the sons in Kasatriyan. There used to be many rituals and protocols that had to be observed before they could meet their parents. Yet, the family of Sri Sultan Hamengku Buwono X do things differently. They live under the same roof and can communicate more easily.

Despite maintaining his status as a monarch and living in the Royal Palace, the Sultan already leads a modern life. The relationship among the Sultan’s family members has become similar to that of a normal family, where parents and children are close and not restrained by protocols. The Sultan has also chosen to live in an area closer to the people, not in Gedong Jene anymore, to make his residence easily accessible.

This is in accordance with Sultan Hamengku Buwono X’s principle to always synergize traditions and the present time. “I am a Kraton man, but I spend only few amount of my time inside the Palace’s walls. Most of the time I am outside the Palace’s walls: in the office, in the marketplace, with the people. If I stay in the Palace all the time, how can I make the people prosperous and bring them forward?” explained the Sultan as quoted by Purwowinoto.

Preserving culture in the dynamics of modern life is not easy. It needs adjustments, but also consistency to keep the values. This is how the Kraton has always approached such effort. “The changes only occur on the packaging, not on the essence. For big occasions, we always refer back to the original concepts. The point is, somehow we should always try to preserve traditions,” added Purwowinoto.


Kraton dan Modernitas

Konsistensi Kraton Yogyakarta untuk menjaga pakem adat istiadat di tengah kemajuan zaman sangatlah patut untuk diapresiasi. Bisa dikatakan, keberadaan Kraton Yogyakarta adalah akar dari terjaganya Yogyakarta sebagai kota budaya. Sebisa mungkin, Kraton Yogyakarta tetap mempertahankan adat istiadat yang telah diwariskan leluhur.

Namun begitu, Kraton tetap berusaha bergerak dinamis mengikuti perkembangan kehidupan yang bergerak di luar temboknya yang tinggi menjulang. Seperti yang diungkap KRT Purwowinoto, Abdi Dalem Kraton Yogyakarta, Sultan sendiri memiliki prinsip bahwa jika ada adat yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman maka akan diperbaiki, diubah agar sesuai dengan zamannya. Perubahan ini disesuaikan dengan pergerakan modernitas yang ada. “Bukan dihilangkan. Pakem dan makna dari adat yang berubah tetap akan dipertahankan agar sesuai dengan makna awal. ” tukas Purwowinoto

Salah satu contohnya misalnya dengan tetap mempertahankan struktur organisasi selayaknya kerajaan di dalamnya. Namun begitu, penampilan para pekerja kerajaan Kraton Yogyakarta tidak lagi terlihat seperti zaman dahulu. Hal ini bisa terlihat dari para aparatur budaya Kraton atau yang biasa disebut Abdi Dalem. Abdi Dalem adalah orang-orang yang mengabdi kepada Kraton dan bertugas untuk menjaga eksistensi budaya yang ada pada Kraton. Saat ini, para Abdi Dalem sudah tidak semuanya menggunakan kemben dan jarik untuk wanita, maupun peranakan untuk pria. Sebagian besar Abdi Dalem sudah berpakaian biasa seperti halnya orang biasa yang ada di luar Kraton.

Perubahan pola hidup Kraton yang lebih modern saat ini juga bisa dilihat dari pola hubungan keluarga Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pada zaman dulu, keluarga Kraton hidup secara terpisah. Raja dan Ratu tinggal secara terpisah. Anak puteri tinggal di Keputren dan anak Putra tinggal di Kasatriyan. Ada banyak ritual dan protokoler yang harus dilalui untuk bertemu dengan Ayah dan Ibu mereka. Namun, keluarga Sri Sultan Hamengku Buwono X melakukan hal yang berbeda. Saat ini mereka sudah tinggal dalam rumah yang sama dan lebih mudah berkomunikasi.

Walau tetap berstatus sebagai Raja dan tinggal dalam istana, Kehidupan Raja saat ini sudah modern. Pola hubungan keluarga raja sudah seperti biasa dimana terdapat hubungan Ayah-Ibu dan anak yang dekat dan tidak lagi terpisahkan protokoler. Raja juga tidak lagi bertempat tinggal di Gedong Jene. Beliau lebih memilih untuk tinggal di bagian Kraton yang lebih mudah diakses oleh masyarakat.

Hal ini sejalan dengan prinsip Sultan HB X yang senantiasa mensinergikan adat dengan zaman. “Saya memang orang Kraton, namun waktu yang saya habiskan di dalam tembok Kraton hanya beberapa persen. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar tembok Kraton. Di kantor, di toko, di antara masyarakat. Kalau saya tetap terus di Kraton, kapan saya bisa menyejahterakan dan memajukan rakyat?” tegas Sultan seperti yang dikutip oleh Purwowinoto.

Mempertahankan kebudayaan di tengah dinamika kehidupan modern memang tidak mudah. Diperlukan penyesuaian namun juga konsistensi untuk terus menjaga nilai. Hal-hal inilah yang selalu dilakukan oleh Kraton. “Perubahan ini hanya sebatas pada pengemasan, bukan merubah esensinya. Saat memang ada acara besar, kami selalu kembali pada konsep awal. Yang jelas, bagaimana caranya kita harus selalu menyempatkan waktu untuk melestarikan budaya,” imbuh Purwowinoto.

p

Best viewed on Chrome, Firefox, Safari, and Opera on 1280 pixels width.